Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

catatan kecil 03

rasanya rindu lama tak bermain dengan diksi, lama tak menggores puisi aku yang terlalu sibuk, hingga hilang waktuku bersama pena kata atau aku saja yang enggan untuk mengajaknya menari dalam rangkain sajak entah akhir-akhir ini kataku sering bungkam hilang kobar semangat yang dulu redup gelora yang pernah bersemayam apa karena dia telah pergi dari kisahku? ah bukan, aku menulis bukan karena dia, dirinya memang turut menyumbangkan warna dalam sajak-sajak ku, tapi sungguh aku menulis bukan untuk nya, ataupun karena nya. sebelum dirinya datang aku sudah mencintai kata-kata aku sudah melebur bersama sajak-sajak karanganku jadi, bukan alasan kepergiaannya membuatku berhenti menulis. seharusnya sedih dan duka itu mampu jadi penguat prosa baiklah,... biarkan aku menyadari bahwa aku menulis adalah sebuah tugas, yang dimana disetiap gores kataku ada amanah dakwah yang harus disampaikan, ada syiar kebenaran yang terkadang tersamarkan oleh dunia  biarkan aku megartikan ...

PEREMPUAN YANG PENDIAM & LAKI-LAKI YANG TIDAK PEKA

Perjumpaan perempuan pendiam dengan laki-laki yang tak peka adalah bencana. Adalah erupsi gunung berapi. Adalah banjir bandang. Adalah angin puting beliung. Adalah tsunami. Adalah aku dan kamu. Aku yang tak berbakat menerjemahkan keterdiaman. Aku yang terlalu lugu—merasa bahwa semua baik-baik saja. Aku yang punya keterampilan kurang memadai dalam mengerti apa yang ada di dalam hati. Dan kamu yang batu. Atau patung tanpa ekspresi. Tak bergerak, tak bersuara, bahkan untuk sekedar berucap ‘aduh’, atau ‘tidak’. Kamu yang diam-diam berairmata. Menangis dalam sunyi untuk menyembunyikan kesedihan. Menyimpannya sendiri di  tempat-tempat yang tak mungkin kutemui. Karena aku laki-laki yang tak peka. Yang tertawa saat jiwamu merintih. Yang terus melangkah saat kau kelelahan dan tertinggal jauh di belakang. Ah,  laki-laki memang harus lebih merasa. Sebab perempuan tak bisa dipaksa bersuara. AZHAR NURUN ALA

ABOUT US (sepotong kisah 4)

 kali ini kami akan sedikit berbagi tentang rendra kisah yang menghiasi langkah perjuangan kami dalam mengemban amanah dakwah di SMA N 1 Gombong. Entah mungkin memang tidak terlalu penting kisah kami untuk kalian, tapi mungkin saja ada sekuntum hikmah yang bisa kalian petik, maka luangkan waktu  lima menit saja untuk membacanya (bisa jadi hanya 3 menit),  walau rangkai katanya tak seindah para pujangga, kisahnya tak sehebat ayat-ayat cinta, tapi disana terselip sebuah makna.             Miftahul ‘ulum, bisa dikenal sebagai rohisnya smansago, walau sebenarnya  kami hanya sebuah majlis kecil yang semoga senantiasa diridhoiNya. Baiklah  disini kami tak akan membahas apa itu miftahul ulum, dan ada apa saja didalamnya, itu mungkin sudah penah ditulis oleh anggota yang lain jadi aku putuskan  kita akan menceritakan sisi lain kehidupan anak-anak MU, yang mungkin jarang terexpose, langka yang mengerti dan ...