kali ini kami akan sedikit berbagi tentang rendra kisah yang menghiasi langkah perjuangan
kami dalam mengemban amanah dakwah di SMA N 1 Gombong. Entah mungkin memang
tidak terlalu penting kisah kami untuk kalian, tapi mungkin saja ada sekuntum
hikmah yang bisa kalian petik, maka luangkan waktu lima menit saja untuk membacanya (bisa jadi
hanya 3 menit), walau rangkai katanya tak
seindah para pujangga, kisahnya tak sehebat ayat-ayat cinta, tapi disana
terselip sebuah makna.
Miftahul
‘ulum, bisa dikenal sebagai rohisnya smansago, walau sebenarnya kami hanya sebuah majlis kecil yang semoga
senantiasa diridhoiNya. Baiklah disini
kami tak akan membahas apa itu miftahul ulum, dan ada apa saja didalamnya, itu
mungkin sudah penah ditulis oleh anggota yang lain jadi aku putuskan kita akan menceritakan sisi lain kehidupan
anak-anak MU, yang mungkin jarang terexpose, langka yang mengerti dan memahami
karena kami bukanlah rumus matematika yang terlogika, atau rentetan sejarah
yang biasa kalian hafal. Kami hanyalah sebuah majlis yang tengah berusaha
membawa perubahan di sekolah kami, maupun pada diri kami sendiri. Banyak orang yang mengira, tugas rohis itu
hanya menyelenggarakan acara-acara di
hari besar islam saja, hanya bertanggung jawab akan event-event keagaman di
sekolah saja. Tak salah memang, tapi mungkin kurang tepat. Menyelenggarakan
event-event keagaaman itu memang salah satu bagian dari tugas kami. Tapi point
yang terpenting dalam mengemban amanah ini bukanlah itu. Melainkan bagaimana
dakwah islam tetap bisa tersyiarkan, bagaimana agar islam tetap tenar dikalangan
sekolah, bagaimana agar mereka bisa menerima dakwah kita dan mau berusaha
bersama-sama menuju kebaikan. Dan tugas inilah yang harus kami emban, jangan
pikir itu semua mudah, bahkan beberapa kali kami terjatuh dalam lelah, harus
berpeluh dalam raga juga jiwa, menelan sabar takterbilang berapa kalinya. Sebab
tak semua bisa menerima, tak semua mau menghiraukan. Hanya seglintir saja yang
mau ikut menoleh peduli, tentang syiar kebaikan ini. Sebab kebaikan memang tak
selamanya hadir bersama kenyamanan dan
kesukaan. Bisa jadi apa yang kita kita tidak suka itu baik buat kita, apa yang kita suka itu tidak baik buat kita
(QS:2:216). Tapi bukankah memang surga itu hanya untuk orang-orang yang
sedikit? Lihat saja, berapa banyak orang-orang yang lebih memilih meramaikan
konser music favorit mereka, ketimbang mengisi masjid dengan rokaat-rokaat
sholat. Seringkali jamah pengajian kalah
dengan jumlah penonton dangdut. Mari kita muhasabahkan diri kita. Sudahkah kita
termasuk kedalam golongan orang-orang yang sedikit?
Di
miftahul ‘ulum ini begitulah tugas kami, mengemban amanah dakwah di sekolah.
Terkadang dakwah itu tersendat bukan karena faktor luar. Tapi tak jarang
dikarenakan oleh kami sendiri. Telinga
ini kerap kali mendengar penilaian
mereka (mungkin juga kalian termasuk) tentang diri kami, anak-anak rohis.
Disini rasa sabar harus banyak-banyak disediakan. Banyak yang menyalahkan sikap kami atau
kekhilafan pribadi menjadi sebuah tinta
yang tercemplungkan kedalam air susu, hingga pekat apa yang harusnya memang
putih. Banyak nyanyian kata tak sedap yang kadang hampir dan menggoyahkan kokoh
kaki kami. "Anak rohis kok gitu?"
Sebelumnya terimakasih akan semua kata
yang kami anggap itu adalah kritikan, nasehat juga pengingat untuk kami. Ketika
khilaf menyerang, maka mutlak itu salah kami. Bukan salah organisasi yang kami
ikuti, bukan pula salah agama yang kami anut. Tapi khilaf kami itu adalah salah
dari diri kami yang juga tengah berproses. kami tengah belajar bersama, untuk
mendalami islam, menyebarkannya, dan berusaha mengamalkannya. tapi dakwah itu
bukanlah suatu hal yang instan, semua itu butuh proses, begitupun perubahan
pada diri kami yang tengah berproses menuju islam yang kaffah, kami masih butuh
bimbingan juga banyak nasehat, sebab khilaf kami sering kali menjadi sebuah kesalah
pahaman. Maaf jika diri yang harusnya
jadi panutan, tapi masih berpeluh kekhilafan, maaf jika tugas dakwah kami belum
maksimal, tersebab belum semua optimal juga ketidak sempurnaan yang ada apa
diri. Kami jua tengah berusaha dalam
belajar, untuk senantiasa memberikan yang terbaik, baik itu untuk perubahan
dalam diri, untuk kemajuan organisasi, juga untuk syiar dienNya.
Untuk kawan-kawan
seperjuanganku dalam titah jalan dakwah ini. Teruslah menegar dalam kokoh
langkah kalian. Kutahu pasti kan berpeluh lelah, tapi jadikan semua itu lillah. Saat beban terasa berat, maka kau punya
banyak bahu untuk berbagi, dan bersandar. Banyak mulut yang kan turut
mendoakan. Banyak tangan yang terulur untuk membantu. Kita bersatu bersebab
dakwah, kita bersama bersebab tujuan jannah. Saat lelah menghampiri, maka ingat
kabar gembira yang disampaikan oleh rosulNya bahwa surga disiapkan untuk
orang-orang yang bersabar dalam jalanNya. Siapa yang menolong agama Alloh, maka
pertolongan Alloh ada untuknya. Ukhuwah yang ada semoga tak mudah terlupa,
kebersamaan yang tercipta, moga berlanjut jua di surga. Disisa tugas akhir
dimasa jabatan kita, lakukanlah yang terbaik. Jika kelak jabatan kita di
organisasi ini bisa purna maka tugas dakwah kita masih teremban sempurna. Hingga
kemilau cahaya islam memancar keseluruh pelosok negri.
salam jihad Mistahul 'Ulum masa jihad 2015/2016

Komentar
Posting Komentar