Langsung ke konten utama

DON'T TOUCH ME!!

"Mi, (panggilan ane di SMA) tos yuk" ajak salah satu teman ikhwan dikelasku, tangan kananya sudah terangkat siap beradu tos denganku ,sontak aku langsung menolaknya, "GAK!" apa-apaan memangnya dia siapa berani-beraninya ngajak tos bareng.  babeh gua atau kakek gua hah??
" kenapa gak mau? ya udah kita salaman aja ya!" ajak anak ikhwan itu lagi, ih ini anak ngeyel dibilang ane kagak mau ya kagak mau.... aku menggeleng tegas, dan mengalihkan fokusku penuh ke novel yang tengah ku baca.
"ih, ummi ma temen kok gitu..., masa gak mau salaman, salaman itu kan katanya menggugurkan dosa mi"(ih, ni anak cowo cerewet banget sih, ni anak agak aneh, bagus lah dah paham klo bersalaman itu menggugurkan dosa. tapi itu khususon buat sesama mahrom aja, klo salamannya kesiapa aja asal genggam, itu mah jadinya menumbuhkan dosa bukan menggugurkannya)

" betul, salaman itu menggugurkan dosa, jika itu kau lakukan bersama si Agung (kebetulan ada agung lewat, jadi asal kusebut saja namnaya, yang empunya nama menoleh bingung,). bukan aku mam, karena kita gak muhrim. tanganku ini bukan hak mu, begitu juga tangan atupun kulitmu, itu sama sekali bukan hak ku, jadi harus kita hormati ia, dengan tidak asal sentuh atau bersalaman.  islam yang mengaturnya mam, sebagai bentuk untuk menjaga kehormatan juga, agar terhindar dari perbuatan maksiat atau fitnah manusia mam..." hati-hati aku menjelaskan, berharap ia mengerti dan segera pergi meninggalkanku. hwahh.. tapi harapku tak terkabul, dia masih mau mendebat.

"tapi kan , cuma hanya sekedar salaman aja, ga lebih, masa kayak gitu aja gak boleh, sih.. gak da maksud apa2 kok" 
arghh ni anak bebal sekali ya... tak tahan lama-lama debat sama dia, aku putuskan untuk memanggil agung yang kini duduk persis di depanku. agung ini juga anak pondokan, sama sepertiku selain sekolah dinegri dia juga menimba ilmu di sebuah lembaga ponpes gitu. ah, lebih baik dia saja yang jelaskan pada himam, itu akan lebih baik. aku tahu dia juga hafal banyak hadist, bahkan lebih banyak dari yang aku tahu. 

"Gung, jelaskan ni sama temenmu. kenapa aku gak mau salaman, cape' aku mau ke kantin dulu" 
sebelum benar-benar pergi dari ruang kelas aku sempat mendengar agung menjelaskan sebuah hadist bahwasanya lebih baik baginya ditusuk-tusuk dengan besi api neraka ketimbang menyentuh yang bukan mahrom. dan itu berhasil membuat himam mrinding penuh kengerian.. hehhehe terimaksih agung :) 
"eh, tapi apa iya sih gung, masa.. cuma nyentuh seujung kuku juga gak boleh, gak pake nafsu kok???"
gubrakg.... selamat berbincang dengan himam, agung.. perut ane dah demo minta diisi hehheh



###############
yap, itu tadi cuplikan kejadian di SMA... kehidupan luar yang penuh dengan kebebasan-kebebasan, yang memaksa keistiqomahan kita membutuhkan pertahanan double ekstra. atau jika tidak siap-siap saja ia di bobol oleh derasnya arus kebebesan yang menghanyutkan pada kerusakan akhlaq. bukan hanya kejadian di atas.. bahkan satu dua pernah yang ngajak suruh mbonjeng bareng, tiba-tiba saja ada yang duduk disebalah kita dengan pd nya. jauh memang, dengan keadaan sewaktu mondok dulu.
susah untuk disamakan, tak bisa malah...


bersalaman, jabat tangan, duduk bareng, boncengan, ah hal-hal itu sudah mereka anggap sebagai hal yang wajar, lumrah dan biasa. tak ada yang mempersalahkan, sah-sah saja, boleh-boleh saja. justru terkadang yang menolaknya malah itu yang dipermasalahkan. klo misal sekarang hal-hal seperti itu dianggap wajar, gimna nantinya, seperempat abad sedepan, mungkin seks bebas, MBA, aborsi, kissing dll itu juga akan jadi hal, yang wajar dan dianggap bukan masalah.. hwahhh.. mau jadi apa negri kita ini, klo generasi yang jadi tumpuan harapan aja dah bobrok! 

kawan, percayalah, agama islam kita ini adalah dien yag sempurna, selalu ada alasan dibalik semua syaria t, aturan-atuannya. alasan yang sebenarnya amat menguntungkan kita,seperti halnya mengapa kita harus minum sambil duduk yang ternyata itu juga berpengarunh akan kelancaran penyaringn dalam ginjal kita, lalu mengapa kita tak boleh meniup makanan, ternyata dalam bidang kesehatan memang tak baik, karena zat CO2 yang kita keuarkan akan bercampur pada zat makanan yang akan kita makan, apalagi jika itu berupa air  (HO2) maka akan menjadi H2CO3 atau sama dengan cuka yang menjadikan air miuman itu menjadi acidic ...tapi terkadang kita gak peka, malah sibuk menilai ini terlalu ribetlah, menyusahkan, terlalu sempit akan ruang untuk berekspresi atau apalah... 


awalnya belum banyak anak yang paham akan prinsipku, buat gak mau salaman sama lawan jenis, tapi seiring waktu mereka mengerti dan memaklumi, bahkan satu dua juga ada yang ikut tergerak mengikuti..
. dan yang akhir-akhir ini yang jadi perbincangan menarik dngan teman-teman di rohis adalah, apa hukumnya salaman dengan guru? 
ah, jelas saja tidak boleh. liat surah an nur ayat 31, disitu dijelaskan siapa saja yang termasuk mahrom kita, (yang tidak boleh dinikaih)     . nah apakah bapak dan ibu guru termasuk di jelaskan didalamnya. enggak sob, beliau2 memang orang tua kita di sekolah tapi tetap tak ada hubungan darah, kandung atau apalah yang membolehkan kita salaman dan mencium tangannya. 

tapikan itu sebagai bentuk rasa hormat kita?
menunjukan rasa hormat tak harus dengan menjabat tangannya. kita bisa mengaplaksikan rasa bakti dan hormat kita dengan memperhatikan setiap ilmu yang beliau berikan, menaati nasehatnya menjalankan perintahnya, mengerjakan tugas dengan baik, dan mendapat nilai yang baik, itu cukup membuat beliau2 bangga dengan kita. dan sudah lah cukup untuk mewakili rasa hormat kita kepadanya.

sob, ibaratkan baju, ia pasti akan lebih punya harga jual dan lebih istimewa jika ia di tempatkan di tempat yang tak mudah di jamah tangan manusia, di bungkus dengan rapih, bahkan di pajang di dalam etalase, pasti punya kualitas yang lebih dibandingkan dengan baju obralan, yang bebas dipegang oleh siapa saja, di lempar sana, sini, tak cocok lempar, cari yang lain, bahkan kita tak bisa menjamin apakah tangan-tangan mereka bersih atau tidak...,


 akhwat fillah..
kau indah, penuh pesona bak mawar yang merekah
semerbak penuh daya tarik memikat seperti mawar pada lebah

tapi tanpa duri kau bukanlah mawar yang sempurna
tanpa duri siapapun bisa memetikmu, menginjakmu, juga merampasmu
tanpa duri kau tak ubahnya bunga-bunga biasa di pinggir jalan

dengan duri mawar melindungi keindahannya, melindungi pesonanya
agar ia tetap aman dalam penjagaannya

maka begitulah diri seharusnya
senantiasa mengenakan syariat sebagai duri yang kan melindungi..
agar tak mudah dilecehkan juga tetap suci tak ternoda

jadilah mawar berduri, di tepi jurang
hanya orang yang mempunyai kesungguhan tinggi, yang berani mengorbankan nyawa, yang kan memetiknya.........














Komentar

Postingan populer dari blog ini

BE A MUSLIM TEENAGER!

Be A Muslim Teenager! Remaja adalah masa yang indah masa yang penuh dengan pernak- penik kehidupan. Penggalian potensi diri juga akan semakin terlihat. Tapi hati-hati dengan masa remaja mu, karena salah jalan saja sudah bisa membuat masa depanmu terancam. Karena bagaimana nanti kamu dimasa depan, adalah bagaimna kamu menjalani masa mudamu. Jangan pernah sia-siakan masa yang ada sebab   nantinya   kita akan ditanya oleh Nya. Bagaimana kita mengisinya dan dihabiskan untuk apa umur kita? , sebuah hadist mengatakan. “Tidak beranjak kaki anak Adam dari hadapan Allah hingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya, dihabiskan untuk apa? tentang usia mudanya, diisi dengan apa? tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan digunakan untuk apa? Dan amalannya dari ilmu yang dia miliki?”(HR At Tirmidzi). Nah, apa yang akan kalian jawab nanti. Tentu saja jika mulut yang menjawab pasti akan terlontar kata-kata yang manis. Tapi bukan mulut, yang akan menjawab melainkan semua ang...

BELAJAR???!@#$%&

BELAJAR????? Arrghhh.... malas sekali sepertinya mendengar kata itu, aku sepertinya memang sudah terlalu nyaman dengan dua minggu liburan ya dua minggu telah usai berlalu,, saat nya kembli ke sekolah, melakukan rutinitas seperti biasa. berangkat pagi, belajar pulang sore, tugas dan ulangan. siap-siap kembali menyapa rumus2 fisika, deretan angka matematika, sebrek hafalan tentang biologi, mengungkit masa lalu dalam sejarah, juga berkutat dengan unsur-unsruk kimia.. mendengarkannya saja sudah membuatku sebal.. tapi kawan liburan kali ini membuatku untuk kembali merenungkan semua, menyesali sikpaku setangh tahun terakhir, menyadarkan dari pola pikirku tentang belajar.   mungkin bukan hanya aku, yang menilai belajar itu membosankan, tak enak, menyusahkan juga memusingkan. apa gunanya coba, menghitung kecepatan boneka jatuh dari lantai sekian? tegangan tali, katrol, kecepatan sentripental, tnagen, coz, sin... toh tanpaa menghitung semua itu kita bakalan teteap hidup.. apakah...