Remaja
adalah masa yang indah masa yang penuh dengan pernak- penik kehidupan.
Penggalian potensi diri juga akan semakin terlihat. Tapi hati-hati dengan masa
remaja mu, karena salah jalan saja sudah bisa membuat masa depanmu terancam.
Karena bagaimana nanti kamu dimasa depan, adalah bagaimna kamu menjalani masa
mudamu. Jangan pernah sia-siakan masa yang ada sebab nantinya kita akan ditanya oleh Nya. Bagaimana kita
mengisinya dan dihabiskan untuk apa umur kita? , sebuah hadist mengatakan. “Tidak
beranjak kaki anak Adam dari hadapan Allah hingga ditanya tentang lima hal:
tentang umurnya, dihabiskan untuk apa? tentang usia mudanya, diisi dengan
apa? tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan digunakan untuk apa? Dan
amalannya dari ilmu yang dia miliki?”(HR At Tirmidzi). Nah, apa yang akan
kalian jawab nanti. Tentu saja jika mulut yang menjawab pasti akan terlontar
kata-kata yang manis. Tapi bukan mulut, yang akan menjawab melainkan semua
anggota kita kan menjawab tanpa ada kedustaan disana. Bagaimana jika tangan
kita menjawab, “masa muda saya di gunakann manusia ini untuk sibuk berselancar
di dunia maya, memegang yang bukan makhromnya, amat kikir dalam memberi,
terlalu malas untuk meegang mushab, lebih sering pegang gadget, tak bisa memberi
konstribusi untuk umat” nah, lo kalo tangan dah berbicara seperti itu, mau apa
kita, tinggal menunggu waktu saja untuk merasakan panasnya jahanam.
Na,udzubillah…. Tapi alangkah indahnya jika tangan kita menjawab “ masa muda
saya digunakan manusia ini untuk senantiasa menulis syiar, memberi kepada
sesama, ringan untuk membantu, gemar untuk memegang mushab, dan senantiasa
memberikan konstribusi nyata untuk ummat” alangkah bahagianya jika tangan kita
esok kan bekata demikian.
Remaja
muslim, bukanlah remaja yang akan menyia-nyiakan waktunya hanya untuk
bersenang-senang, bukan juga yang memilih untuk menikmati khidupan. Remaja
muslim adalah ia yang memilih hidup nya unuk berjuang. Menyibukan dirinya
dengan urusan ummat.Terus menggoreskan prestasi dan konstribusi yang nyata.
Yang lebih banyak bertindak dari pada membual. Remaja islam itu seperti Thahlah
bin Ubaidillah diusianya yang baru 16 tahun sudah berhasil menjadi pembesar
utama barisan islam di mekah, menjadi singa podium, atau lihatlah Al-Arqom bin Abil Arqam Al-Makhzumi yang diusia yang sama sudah berani mengambil resiko yang
amat besar untuk menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah islam selama 13
tahun, itu bukanlah hal yang mudah saat itu, sebab bahaya kan terus membayangi.
Tapi Arqom, telah menaruhkan semua hidupnya untuk jalan dakwah islam, tak
peduli walau bahaya bisa datang kapan saja. Tak ada satupun sahabat rosululloh
yang menggunakan masa remajanya dengan kesia-siaan, mereka mengisinya dengan
belajar, berlatih dan berjuang. Atau lihatlah kepribadian Muhammad Al-fatih yang sejak usianya menginjak baligh ia tak pernah sekalipun meninggalakan sholat fardu berjamaah, sekaligus beserta sunah rowatib nya, sujudnya tak pernah lalai dari sepertiga malamnya.Lalu bagaimana dengan kita???
Jika
sekarang kebanyakan remaja Indonesia sibuk dengan gadget dunia maya, teknologi
yang melenakan, film-film yang membodohkan, dan music-music yang penuh dengan
kejahiliahan. Cobalah tengok saudara-saudara kita dipalestin, Suriah, Rohingya sana. Masa remaja
mereka telah disibukan untuk berlatih senjata, telinga mereka sudah mulai
terbiasakan akan suara tembakan dan dentuman, mata mereka sudah terbiasa dengan
pemandangan pilu, darah dan raga-raga yang tak benyawa. Bagaimana perbandingan
dengan kita sekarang???
Masih ada waktu untuk
memperbaiki. Masih ada waktu untuk menjadi remaja muslim yang sejati. Memulai
dari hal yang sederhana, mempelajari dasar-dasar. Memperbaiki diri secara
kaffah. Memulai dari diri kita sendiri. Memperbaiki sholat kita, pakean kita,
berjilbab dengan syar’i, karena jilbab sejatinya adalah perintahNya yang nyata,
bukan hanya untuk sekedar bergaya, salah besar jika kita jadikan jilbab kita
hanya untuk sekedar bergaya, untuk modis sehingga memakainya tanpa aturan
ketentuan dalam islam, tapi malah mengikuti trand masa kini. Begitu juga dengan
budaya pacaran yang tengah menjamur. Sudah sepantasnya hal-hal seperti itu kita
kikis, hilangkan dari kehidupan remaja. Pacaran adalah kesia-sian belaka, hanya
untuk orang-orang yang tak bekomitmen. Pintu gerbang menuju perzinaan. Bukanlah
jalan yang ditempuh oleh para pencinta
sejati.
Remaja muslim, harus senantiasa berusaha
untuk memberi pada ummat, berkumpul bersama oang-orang yang sholeh, mencintai
masjid sebagai tempat untuk majlis, turut berjuang dalam mengembalikan
kejayaan. Senantiasa taat pada apa yang telah disyariatkan. Karena sejatinya
tugas kita sebagai manusia adalah beribadah kepada –Nya, dan menjadi kholifah
di muka bumi ini. Be a muslim teenager! Young today leader tomorrow!
By; @5_arah07

Komentar
Posting Komentar