Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

ANAK-ANAK ABI

Setya Rahma Sholehah Adalah harapan doa pertama yang terjawab doa sepanjang perjalanan Nak ... rasanya tak cukup kamu hanya membaca puluhan buku yang abi belikan belajarlah membaca kehidupan agar kelembutanmu bisa mengimbangi rasionalitasmu yang tajam Nidzar Amanul Hakim Doa kedua yang terjawab Pejuang yang kudambakan aku cuma tersenyum ketika kamu berkata " Bosan membaca, bikin ngantuk " kemudian kamu ambil kuas dan kanfas atau membongkar apapun yang kamu pingin bongkar Nak .... Proses kreatifitas memang tak semua hadiir dari bacaan yang kadang memang sempit dan membatasi Ilmu bukan hanya bisa diambil dari deretan kata dan huruf Ia bertebaran dialam dan kamu perlu merangkainya dalam bait dan kalimat agar abi bisa membacanya. Amalia Syahida Doa Ketiga Yang Terkabulkan Harapan yang terus terkembang Candamu slalu memenuhi hari hari Kritikmu lugas tanpa basa basi Nak .... Pupuklah terus jiwa terus...

SURAT DARI ABI

DE... ada sepucuk surat dari abi, yang ditulis sekitar lima tahun yang lalu, tapi akan tetap berguna untuk bertahun-tahun yang akan datan g .    masih ingat sekali pertama kali membacanya, saat itu aku masih duduk di bangku smp kelas satu. dan sampai sekarang aku tak bosan untuk tetap membacanya. terselip sebuah harap di tiap katanya, agar kelak kita menjadi anak yang tangguh, tak mudah menyerah pada keadaan, terus belajar, bersyukur dan bersabar dalam menghadapi segala nikmatNya. abi, kami tengah berjalan beriringan dengan pesan mu dan doa doa dari mu  terimakasih abbi Surat Untuk Anaku. Kutulis ini ketika langit mendung, ketika  wajah dan candamu terus membayang Asalamu”alaikum Nak … Tak usahlah berkecil hati kalau kita masih kecil, itu bukan berarti kita selamanya akan kecil. Lihatlah pohon asam di tepi jalan itu bukankah dulunya ia hanya buah yang  kecil, kemudian tumbuh perlahan dan terus tumbuh hingga sangat besar. Unt...

PUISI CINTA ABI

Malam semua, mungkin ditempatmu matahari sedang terang bersinar, sapaan ku tadi aku sampaikan agar kau tahu, saat ini aku sedang berada dibawah langit malam, dengan deras hujan yang menjadi bumbu kerinduan (ya, walau aku tahu itu tidak penting). malam ini, aku tak sengaja menemukan secarik tulisan abi, seseorang yang telah menurunkan bakat alami untuk menulis kepada anak-anaknya (emhh bisa jadi begitu, aku hanya asal menarik kesimpulam), dan entah kenapa saat membaca puisi yang satu ini rasanya ingin sekali menangis... mungkin karena rindu bercampur baper apakah kelak kau juga akan membuatkan puisi untukku ~eyh.. apaan sih.. lupakan~~~ Sajak untuk istriku Mi….. Menatap wajahmu, membuat rasaku luruh tak berdaya  Ada perasaan damai, bahagia dan sedih  Damai karena teduh sorot matamu mendinginkan amarah dan ambisi  Yang kadang membuat aku lupa diri  Bahagia karena merdu dan lembut kata katamu slalu menetramkan hatiku  Membuat api sema...

KARENA LUKA BUTUH JEDA

ukhti aku mengerti. masalah hati memang tak sesederhana kata apalagi soal luka tak apa jika kau ingin menangis menangislah.... walau aku tahu airmata dihatimu jauh lebih deras dari pada air mata di matamu seperti halnya juga lukamu kau mungkin bisa menipu orang lain dengan senyum dan tawa mu... tapi kau tak bisa menipu dirimu sendiri, bukan? aku mengerti kau  bahkan berungkali menghibur diri bahwa kelak nanti akan datang seseorang yang lebih baik darinya, kau juga berusaha menguatkan hati, bahwa apa yang telah ditakdirkan diantara kalian itulah yang terbaik kau meyakinkan diri, bahwa bukan ia yang akan menyempurnakan  separuh dienmu entahlah.. apakah semua itu membuat lukamu menjadi sembuh seketika apakah itu akan membuat hatimu kembali baik-baik saja kurasa tidak seberapa keras kau mengibur hatimu ia masih saja tetap perih, bukan? seberapa kuat kamu mengingkari hatimu tetap tak bisa berbohong bahwa masih ada sisa sisa luka disana kau bahkan mas...