Langsung ke konten utama

selamat tinggal Zaid



Selamat Tinggal Zaid............!!!
                 Aku kembali menyeka kedua ujung mataku. Wajah Zaid terus terbayang-banyang di pikiranku. Sungguh aku tak bisa melupakannya. Itu sangat sulit. Bagaimana aku bisa melupakannya, seseorang yang amat ku cintai, seseorang yang selama ini mampu membuatku bertahan menunaikan mimpi, yang jadi warna di setiap hariku. Muhamaad Zaidan, ya itulah nama anak itu. Adik satu-satunya yang ku miliki, dan mungkin hanya dialah sanak saudara ku yang masih tersisa (dan sekarang tidak lagi). Zaid amatlah pandai, bahkan aku tidak sepaindai dia, kemammpuannya menghafal al-Qur’an memang sungguh sangat luar bisa, tak perlu di ragukan. Dialah sang generasi qurani, yang siap tumbuhkan peradaban yang telah lama terkulai. Ad-dinul islam.
                 Zaid memang berbeda dengan anak-anak lainnya. Kalo aku boleh bilang dia istimewa. Tetap tegar, walau kini ia telah kehilangan semua orang-orang yang ia cintainya, kehilangan hampir semua yang ia miliki, kecuali al-imanu billah, yang siap ia jaga samapai mati!. Tak pernah ku dengar kalimat keluh kesah nya, Rintihan putus asa, itu tak ada dalam kamus hidupnya. Ia ikhalas dan ridho terhadap apa yang Alloh berikan padanya, termasuk juga dengan kehilanan kaki kirinya. Ironis sekali.  Ia tak bisa berlari bebas seperti anak-anak yang lainya, menjalani kehiduan masa kanak-kanak yang seharusnya indah . Ya Alloh, Zaid masih terlalu amat kecil untuk menanggung semua penderitaan ini, ia masih terlalu plos untuk di hadapkan dengan urusan yang jauh dari sederhana ini. Apakah ini semua adil ya Alloh?, Tentu adil karena Engkaulah yang maha adil tehadap sesuatu. Tapi masalahnya bukan hanya Zaid yang  mengalami semua ini, melainkan juga ratusan anak-anak palestina disini.
                  Langkah Zaid  terus berlari dan berlari menggapai cita-cita, tanpa atau tidak dengan kaki kirinya. Di kala semua anak-anak di belahan dunia lain sedang asyik bermain , nge-game, sms-an, facebook-an dan lain sebagainya yang membuat mereka terus terlena, dan tak sadar apa yang terjadi, ribuan kilometer jauh disana.  Zaid, adiku sedang terduduk rapi dengan mushab di depannya, mulutnya sibuk berkomat kamit. Menghafal ayat- demi ayat.  Aku bangga melihatnya. Akan tetapi tetap saja ada kemarahan yang amat sangat. Mereka semua harus bertanggung jawab, atas semua yang mereka lakukan pada anak-anak palestina. Mereka semualah yang menyebabkan semua ini. Siapa lagi kalo bukan tentara-tentara pasukan yang kejam itu. Mereka tega. Tega sekali. Dengan tanpa rasa bersalah mereka menembaki wajah-wajah tak berdosa itu. Meluncurkan peluru demi peluru ke dada Ummi, Abi dan kak Zainab. Aku benci mereka Mereka sungguh Kejam,Biadab!!!! Masih pantaskan mereka di sebut manusia?
@@@@@@@@@
                 Hari itu tak akan pernah ku lupakan. Jum’at 29 Oktober 2010. Saat itu aku akan akan mengantarkan adikku Zaid ketempat Ustadz. Rohman. Ia akan menyelesaikan hafalannya. Di usianya yang masih amat muda, bayangkan saja baru 10 tahun itu saja belum genap ia telah berhasil menghfal lebih dari 25 juz. Subahanalloh..... Tinggal satu langkah lagi. Ia berhasil menggapai impiannya. Menjadi Hafidz Qur’an.
                 Di tengah perjalan kami sempat berbincang. Sebuah perbincangan yang tak akan pernah ku lupakan. Perbincangan yang indah  tapi terkadang menyayat jka kembali mengingatnya.
                 “Kakak Zaid kangen sama Ummi, Abi dan kak Zainab. Mereka sedang apa ya, Kak?. Ah pasti  Ummi, Abi, kak Zainab lagi bersenang-senang di surga. Zaid pengin ke surga, biar bisa ketemu Umi, Abi dan kak Zainab. Kakak juga ingin kan?”Tanya Zaid, senyuman indah yang tersungging di wajah polosnya itu menatap ku, dengan tatapan sang malaikat surga.
                 “Zaid, semua itu ada waktunya. Kau selesaikan dulu haflan mu, baru boleh masuk surga”Aku hanya menjawab itu, sambil mengacak rambutnya yang hitam.
                 “Oh jadi Zaid harus cepat-cepat menyelesaikan hafalannya. Siip.”Zaid berkata mantap “ Ok ,nanti kalo Zaid jadi Hafidz Qur’an kakak mau kan, Zaid ajak ke surga? kita pergi bareng-bareng. Terus kita bisa kumpul-kumpul lagi sama Umi, Abi dan kak Zainab, disana, kan seru, tempatnya lebih bagus dan indah lagi. Janji deh, Zaid gak bakal ngusilin  lagi kak Zainab sama kak Maryam” hati ini begetar, bahagia sekali mendengarnya.  Kujawab dengan anggukan kepala sambil tesenyum menatap mata indahnya. Adiku Zaid, Kau tahu betapa bahagianya Kakak mu ini ketika mendengar kalimat indah itu terangkai dari bibir syuhada seperti mu. Kalimat yang selama ini akan rindukan untuk kembali terngiang, tapi sayang itu hanya hadir lewat mimpi saja.
                 Perjalanan ini tak terlalu memakan waktu. Dalam beberapa menit saja kami telah sampai. Walaupun itu harus dengan sangat hati-hati.Mengendap-ngendap, menebus hutan belantara. Itu semua kami lakukan  agar perkumpulan Zaid ini tidak di ketahui oleh mata-mata, yang selalu mengintai. Dan tak akan pernah tenang denagn semua ini.
                 Zaid segera berlari ke Ust Rohman. Di sana juga terlihat beberapa anak remaja sedang menyetor hafalan. Diantara mereka Zaid lah yang termuda. Kedatangannya di sambut  dengan senyuman hangat Ust Rohman dan teman-teman seperjuangannya.
                 “Selamat datang calon hafidz! Bagaimana sudah siap dengan setorannya” Sapa Ust Rohman ramah. Zaid mengangguk mantap,”Siap ustadz”
                  Zaid memulai melantunkan melantunkan ayat-ayat Alloh. Suaranaya indah sekali, menggetarkan hati orang yang mendengarkannya. Membuat para malaikat berdatangan.  Mataku terus memandangi anak itu, sebelum Fatimah anak Ust Rohman memanggilku.
                 “Maryam, bisa tolong bantu aku untuk mempersiap kan makanan” ucapnya lembut, dia begitu cantik, wajahnya bersinar indah, membuat siapa saja tak tega menolak permintaannya. Aku dan Fatimah segera menuju dapur.  Ku bantu Fatimah menyiapkan minuman, sedangkan dia sedang menata makanan di atas nampan.
“Adik mu Zaid itu hebat sekali ya. Aku kagum padanya.” Kata Fatimah sambil terus menatap  tatanan kuenya. Belum sempat aku menanggapa ucapan Fatimah itu. Tiba-tiba terdengar keributan, teriakan minta tolong dan takbir dengan di sertai suara tembakan-tembakan keras.
Dor....dor....dor...
Seketika gelas yang berada di tangan ku jatuh, aku melirik ke Fatimah Dia juga terlihat panik, tapi sedikit lebih tenanng.
                 “Pasukan tentara itu telah datang! Ayo Maryam Cepat lari.” Fatimah berseru, seraya menarik tangan ku. Aku panik, tak tahu apa yang harus dilakukan.
                 “Tapi bagaimana dengan Zaid, Abi mu dan anak-anak lain. Bagaimana dengan mereka!!!!!”  Teriaku panik. Jantungku berdegup kencang,  Keringat seketika menetes begitu deras. Zaid? Apakah dia baik-baik saja. Aku mencoba mengintip bagaimana keadannya dari balik pintu dapur. Tentara-tentara itu telah datang menyerbu tempat ini. Mereka membabi buta semua yang ada di depan mereka. Menembak ke segala arah. Mataku berkeliaran mencari sosok Zaid. Di mana dia?. Apakah dia baik-baik saja.  Ya Alloh lindungilah dia!
                 Mataku tiba-tiba tertuju kepada seoranga anak laki-laki. Itu Zaid! Ya tak salah lagi itu Zaid. Dia masih Duduk dengan tenang. Ia masih sibuk  melantunkan  ayat-ayat itu dengan tenang. Bagaimana mungkin dalam keadan seperti sekarang ini ia masih bisa setenang itu. Begitupun Ust Rohman.Aku berusaha untuk menyuruhnya lari, tapi ia seolah tak mendengar, Zaid tetap terfokus pada hafalannya. Aku melihat peluru-peluru yang di luncurkan  oleh para tentara-tentara itu, dan entah kenapa tak ada satupun yang berhasil mengenai tumbuh zaid  . Subhanallloh. Tapii.....................
                 Tepat saat Zaid mengucapkan Shodaqolloh hul’adzim.Sebuah peluru meluncur ke arahnya, peluru itu memang kecil, tapi apabila tepat  mengenai dada, orang itu seketika akan mati di tempat. Aku berharap kali ini pelurunya kembali meleset. Tapi sayang harapan ku tidak terkabul.  
                 Tubuh Zaid tergeletak lemah. Darah mulai bercucuran. Membuat baju yang di kenakannya tak lagi putih bersih. Tubuh ku terasa lemas. “Zaid!!!!!!!” Teriaku sekeras mungkin. Aku hendak berlari ke arah nya, tapi Fatimah menahan ku.  Matanya juga sembab Ust Rohman juga terbunuh tepat setelah zaid jatuh terkulai. “ Maryam itu  berbahaya. Kamu tak bisa kesana. Sekarang ikut aku.”  Aku sudah tak mempunyai kekuatan untuk meronta, melepaskan diri dari dekaman Fatimah. Dia memapah tubuh ku ke sebuah ruang bawah tanah, ku rasa disini cukup aman.  “Zaid....” aku kembali mendesah lirih.
                 “Maryam, sudahlah ikhlaskan dia. Alloh pasti akan memberikannya tempat yang lebih indah disana”Fatimah mencoba menghiburku. Aku tak tau apa yang membuatya setegar itu. Ia berusaha menghibur orang lain, padahal dirinya sendiri juga perlu untuk di hibur.
###########################
                 Zaid, pasti dia senang sekali. Permintaan Zaid seketika di kabulkan oleh Alloh hari itu juga. Sekarang Zaid bisa bertemu dengan Ummi, Abbi dan Kak Zainab, melepas rindu yang begitu amat bergelora di hati Zaid. Zaid, tolong cerita ke kakak bagaimana di surga sana, apa saja yang kalian lakukan. Sampai-sampai tak pernah kembali hanya sekedar untuk menanyakan kabar ku. Apakah kalian telah melupakanku. Zaid, kenapa Zaid tega meninggalkan kakak sendirian disini. Zaid bohong. Kata Zaid kita akan masuk surga bersama-sama, tapi kenapa Zaid ninggalin kakak lebih dulu. Zaid kakak kangen Zaid apakah Zaid juga rindu pada kakak. Kakak kangen Zaid, Ummi,Abi dan juga Kak Zainab. Kak maryam kangen kalian semua. Selamat tinngal adiku.................

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BE A MUSLIM TEENAGER!

Be A Muslim Teenager! Remaja adalah masa yang indah masa yang penuh dengan pernak- penik kehidupan. Penggalian potensi diri juga akan semakin terlihat. Tapi hati-hati dengan masa remaja mu, karena salah jalan saja sudah bisa membuat masa depanmu terancam. Karena bagaimana nanti kamu dimasa depan, adalah bagaimna kamu menjalani masa mudamu. Jangan pernah sia-siakan masa yang ada sebab   nantinya   kita akan ditanya oleh Nya. Bagaimana kita mengisinya dan dihabiskan untuk apa umur kita? , sebuah hadist mengatakan. “Tidak beranjak kaki anak Adam dari hadapan Allah hingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya, dihabiskan untuk apa? tentang usia mudanya, diisi dengan apa? tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan digunakan untuk apa? Dan amalannya dari ilmu yang dia miliki?”(HR At Tirmidzi). Nah, apa yang akan kalian jawab nanti. Tentu saja jika mulut yang menjawab pasti akan terlontar kata-kata yang manis. Tapi bukan mulut, yang akan menjawab melainkan semua ang...

BELAJAR???!@#$%&

BELAJAR????? Arrghhh.... malas sekali sepertinya mendengar kata itu, aku sepertinya memang sudah terlalu nyaman dengan dua minggu liburan ya dua minggu telah usai berlalu,, saat nya kembli ke sekolah, melakukan rutinitas seperti biasa. berangkat pagi, belajar pulang sore, tugas dan ulangan. siap-siap kembali menyapa rumus2 fisika, deretan angka matematika, sebrek hafalan tentang biologi, mengungkit masa lalu dalam sejarah, juga berkutat dengan unsur-unsruk kimia.. mendengarkannya saja sudah membuatku sebal.. tapi kawan liburan kali ini membuatku untuk kembali merenungkan semua, menyesali sikpaku setangh tahun terakhir, menyadarkan dari pola pikirku tentang belajar.   mungkin bukan hanya aku, yang menilai belajar itu membosankan, tak enak, menyusahkan juga memusingkan. apa gunanya coba, menghitung kecepatan boneka jatuh dari lantai sekian? tegangan tali, katrol, kecepatan sentripental, tnagen, coz, sin... toh tanpaa menghitung semua itu kita bakalan teteap hidup.. apakah...

DON'T TOUCH ME!!

"Mi, (panggilan ane di SMA) tos yuk" ajak salah satu teman ikhwan dikelasku, tangan kananya sudah terangkat siap beradu tos denganku ,sontak aku langsung menolaknya, "GAK!" apa-apaan memangnya dia siapa berani-beraninya ngajak tos bareng.  babeh gua atau kakek gua hah?? " kenapa gak mau? ya udah kita salaman aja ya!" ajak anak ikhwan itu lagi, ih ini anak ngeyel dibilang ane kagak mau ya kagak mau.... aku menggeleng tegas, dan mengalihkan fokusku penuh ke novel yang tengah ku baca. "ih, ummi ma temen kok gitu..., masa gak mau salaman, salaman itu kan katanya menggugurkan dosa mi"(ih, ni anak cowo cerewet banget sih, ni anak agak aneh, bagus lah dah paham klo bersalaman itu menggugurkan dosa. tapi itu khususon buat sesama mahrom aja, klo salamannya kesiapa aja asal genggam, itu mah jadinya menumbuhkan dosa bukan menggugurkannya) " betul, salaman itu menggugurkan dosa, jika itu kau lakukan bersama si Agung (kebetulan ada agung lewat, jad...