Sampai kapan kau bertahan? Hanya mampu tersandar pada papan tentram
Bak tua renta menikmati detik waktu
Tanpa tindak, songsong kemuliaan
Tanpa gerak, jemput impian
Tangan menopang asa, tapi hati enggan kau rubah
Sampai kapan kau kuat kan mengadu?
Kala tatap tak lagi acuh pada pergolakan
Telinga tak lagi dengan kicau nurani
Gerak langkah tiada terarah
Menyisakan buliran tentram
Nyenyak dalam belaian zaman
Tunaikan nyaman, hilang usaha
Sampai kapan kau mampu bertalu?
Rajutan beribu nada kini hilang harmoni
Untaian kata pun hambar disenandungkan
Pula ikatan batin tlah kau singkirkan
Dan kini mimpi hanyalah bayang semu
Laik mendung kian pekat mencekam
Pelangi beranjak menjauh beriringan
Belum cukupkah tangis pertiwi mengoyak batinmu?
Kau tidur dalam nyenyak di ruang waktu
Tersembunyikan malu
Kala pagi mengejek dengan kokok lantangnya
Berselimut mimpi yang masih rapat menutupi
Belum terlambat, Teman!
Sebelum ia benar-benar membunuh
Menikam hingga binasa
Menjadikanmu sosok hidup
Dengan ruh tanpa arti
Kini, Selagi masih ada sempat
Selagi waktu masih berkawan
Jangan siakan luang yang ada
Saat tanya kembali menggema
Jawablah tegas dengan ikrar
Bak petarung tangguh
Dan ketika pertiwi memanggil
Bangun...Bangkit...Berlarilah...
hancurkan pesona fatamorgana yang mengimingi
hilangkan semu bayang tak jelas rupa
Negeri ini memekikkan namamu
Singsingkan lenganmu sampai kebahu
Acungkan kepalan jari
Biarkan penopang langkahmu itu bumi
Dan langit yang menaungi
Dengan deret doa terlantun tak henti
Komentar
Posting Komentar