ini untuk kesekian kalinya aku berdiri disini. menatap senja entah yang keberapa ribu kalinya menyaksikan sinarnya yang perlahan hilang dikaki cakrawala. senja yang memerah itu seakan hendak bercerita tentang lukanya yang terbakar. senja yang tua seakan ingin memberikan petuah soal waktu, dan lelahnya menunggu. senja memang tak pernah berkata apapun, aku lah yang sibuk bercerita, aku yang sibuk menangis didepan sisa-sisa cahayanya. tapi semburat cahyanya yang perlahan menua dan hilang, mampu mengajariku banyak hal. bahwa nanti setelah perginya dari cakrawala, akan ada malam dengan taburan bintang, dan sinar rembulan. yang tak kalah mempesonanya dari sang senja. ah senja ia mengorbankan dirinya untuk sesuatu yang lebih indah.
sore ini aku kembali menangis. ah iya sudah kubilang bukan, aku ini wanita yang cengeng. jadi berhentilah menganggapku kuat. aku tahu esok kau akan pergi, harusnya sekarang aku kerumah mu, menngucapkan selamat tinggal, berpesan untuk hati-hati, dan (cepatlah kembali). tapi aku juga tahu aku tak akan pernah berani melakukan semua itu. menyapamu saja aku masih takut. dan bahkan untuk mengakui bahwa dihati ini ada ruang untukmu aku masih belum berani. diri ini masih menolak kenyataan bahwa hatiku jatuh cinta padamu, malah sibuk bertanya, benarkah aku menyukaimu?. entah, terkadang logikaku yang bergemuruh mematahkan semua harapan. siapa aku? ah, bahkan kau mau pergi sejauh itu tak pernah bilang padaku, hingga aku tahu semua kabar tentangmu dari Nadia, sahabatku.
maka, biarlah sore ini aku menangis, karena semua duka itu. akan orang-orang yang ku cintai yang perlahan satu persatu pergi meninggalkanku. sendiri. tak apa, bukankah masih ada yang Maha cinta, bukankah Ia tak pernah pergi, akan selalu ada.dan memberikan janji bahagia untuk siapapun yang mau bersabar. janji yang pasti dan tak pernah teringkari. dan sore ini aku putuskan untuk melepasmu, berusaha tak pernah lagi menghiraukan kalau ada titik rasa di relung sana. ya, mungkin aku tak pernah bisa memintamu untuk menemaniku menangis. tak apa, aku sudah terbiasa menangis dalam sendiri.
tepat saat itu, saat hendak ku ayungkan langkah kakiku meninggalkan senja. saat aku sudah putuskan untuk melepasmu. kau datang
"kenapa pergi? bukankah senjanya belum usai" ah iya, itu suaramu, suara yang selama ini selalu bisa membuatku merasa lebih nyaman.
kamu ,seharusnya aku yang bertanya kenapa kau datang? tau dari mana aku disini?. tapi tanya itu tak pernah meluncurdari bibirku. aku hnya diam, sibuk menghapus sisa-sisa airmataku.
"kenapa, kau selalu menghapus airmatamu, saat akan bertemu denganku? menangislah jika kau masih ingin menangis. aku akan temani......."
oh, ya tuhan, semoga telingaku baik-baik saja, tak salah mendengar semua ucapmu barusan. benarkah itu kamu. setelah itu kami terdiam, mematung didepan senja, yang kian menua.
"ada apa?" akhirnya aku memutuskan semua kesunyian.
"aku mau pamit.." tepat diujung kata pamit yang kau ucapkan, airmataku mengalir. kenapa aku menangis? ah entah aku juga tak mengerti kenapa air mata ini keluar begitu saja. dan entah, kenapa tiba-tiba dada ini terasa begitu sesak. tapi kali ini aku tak menangis sendiri, di ujung mataku aku sempat melihat matamu, yang juga memerah, terlihat kau berusaha untuk menahan airmata yang menggenang dimatamu untuk tidak tumpah. tapi, kenapa? tapi kenapa kau juga ikutan menangis?. lagi-lagi semua itu hanya tanya yang tak sampai.
"nanti malam aku akan terbang ke jerman, aku putuskan untuk mengambil beasiswa disana."
"berapa lama?"
"enatah, mungkin 2 tahun, bisajadi lebih"
2 tahun? kenapa lama sekali? bisa jadi lebih?? pipiku sudah basah, mendengar kenyataan bahwa sebentar lagi kau akan jauh dari ku. jauh? bukankah dari dulu kita memang tak pernah dekat? hatiku saja yang selalu merasa ada didekatmu, rinduku saja yang selalu mencercau tentang mu. hanya aku, rasaku, juga rinduku, entah dengan mu. apakah kau punya perasaan yang sama denganku? apakah nanti disana kau akan merindukanku? akankah kau akan segera kembali dan pulang untuku? semua tanya itu tak akan pernah sampai padamu, sebab aku memutuskan untuk menyimpannya, samapikapanpun aku tak berani bertanya semua itu.
"ouh... sukses buat s2 mu...." hanya itu yang keluar dari bibirku.
beberapa detik lagi senja sempurna menghilang. bintang gemintang telah bersiap menampakan semua pesonanya, rembulan pun telah siap memancarkan sinar teduhnya. sang malam akan memenuhi janjinya pada sang waktu, untuk menggelar gelap, dan memberi isyarat untuk rehat.
dan saat itu, tepat ketika matahari membenamkan dirinya di kakilangit, tepat saat senja menghilang, aku mendengar sesuatu dari bibirmu, yang kau ucapkan bersamaan dengan jatuhnya airmatamu.
"maafkan aku , Nay"............
bersambung..........
stya rahma
8 juli 2016
sore ini aku kembali menangis. ah iya sudah kubilang bukan, aku ini wanita yang cengeng. jadi berhentilah menganggapku kuat. aku tahu esok kau akan pergi, harusnya sekarang aku kerumah mu, menngucapkan selamat tinggal, berpesan untuk hati-hati, dan (cepatlah kembali). tapi aku juga tahu aku tak akan pernah berani melakukan semua itu. menyapamu saja aku masih takut. dan bahkan untuk mengakui bahwa dihati ini ada ruang untukmu aku masih belum berani. diri ini masih menolak kenyataan bahwa hatiku jatuh cinta padamu, malah sibuk bertanya, benarkah aku menyukaimu?. entah, terkadang logikaku yang bergemuruh mematahkan semua harapan. siapa aku? ah, bahkan kau mau pergi sejauh itu tak pernah bilang padaku, hingga aku tahu semua kabar tentangmu dari Nadia, sahabatku.
maka, biarlah sore ini aku menangis, karena semua duka itu. akan orang-orang yang ku cintai yang perlahan satu persatu pergi meninggalkanku. sendiri. tak apa, bukankah masih ada yang Maha cinta, bukankah Ia tak pernah pergi, akan selalu ada.dan memberikan janji bahagia untuk siapapun yang mau bersabar. janji yang pasti dan tak pernah teringkari. dan sore ini aku putuskan untuk melepasmu, berusaha tak pernah lagi menghiraukan kalau ada titik rasa di relung sana. ya, mungkin aku tak pernah bisa memintamu untuk menemaniku menangis. tak apa, aku sudah terbiasa menangis dalam sendiri.
tepat saat itu, saat hendak ku ayungkan langkah kakiku meninggalkan senja. saat aku sudah putuskan untuk melepasmu. kau datang
"kenapa pergi? bukankah senjanya belum usai" ah iya, itu suaramu, suara yang selama ini selalu bisa membuatku merasa lebih nyaman.
kamu ,seharusnya aku yang bertanya kenapa kau datang? tau dari mana aku disini?. tapi tanya itu tak pernah meluncurdari bibirku. aku hnya diam, sibuk menghapus sisa-sisa airmataku.
"kenapa, kau selalu menghapus airmatamu, saat akan bertemu denganku? menangislah jika kau masih ingin menangis. aku akan temani......."
oh, ya tuhan, semoga telingaku baik-baik saja, tak salah mendengar semua ucapmu barusan. benarkah itu kamu. setelah itu kami terdiam, mematung didepan senja, yang kian menua.
"ada apa?" akhirnya aku memutuskan semua kesunyian.
"aku mau pamit.." tepat diujung kata pamit yang kau ucapkan, airmataku mengalir. kenapa aku menangis? ah entah aku juga tak mengerti kenapa air mata ini keluar begitu saja. dan entah, kenapa tiba-tiba dada ini terasa begitu sesak. tapi kali ini aku tak menangis sendiri, di ujung mataku aku sempat melihat matamu, yang juga memerah, terlihat kau berusaha untuk menahan airmata yang menggenang dimatamu untuk tidak tumpah. tapi, kenapa? tapi kenapa kau juga ikutan menangis?. lagi-lagi semua itu hanya tanya yang tak sampai.
"nanti malam aku akan terbang ke jerman, aku putuskan untuk mengambil beasiswa disana."
"berapa lama?"
"enatah, mungkin 2 tahun, bisajadi lebih"
2 tahun? kenapa lama sekali? bisa jadi lebih?? pipiku sudah basah, mendengar kenyataan bahwa sebentar lagi kau akan jauh dari ku. jauh? bukankah dari dulu kita memang tak pernah dekat? hatiku saja yang selalu merasa ada didekatmu, rinduku saja yang selalu mencercau tentang mu. hanya aku, rasaku, juga rinduku, entah dengan mu. apakah kau punya perasaan yang sama denganku? apakah nanti disana kau akan merindukanku? akankah kau akan segera kembali dan pulang untuku? semua tanya itu tak akan pernah sampai padamu, sebab aku memutuskan untuk menyimpannya, samapikapanpun aku tak berani bertanya semua itu.
"ouh... sukses buat s2 mu...." hanya itu yang keluar dari bibirku.
beberapa detik lagi senja sempurna menghilang. bintang gemintang telah bersiap menampakan semua pesonanya, rembulan pun telah siap memancarkan sinar teduhnya. sang malam akan memenuhi janjinya pada sang waktu, untuk menggelar gelap, dan memberi isyarat untuk rehat.
dan saat itu, tepat ketika matahari membenamkan dirinya di kakilangit, tepat saat senja menghilang, aku mendengar sesuatu dari bibirmu, yang kau ucapkan bersamaan dengan jatuhnya airmatamu.
"maafkan aku , Nay"............
bersambung..........
stya rahma
8 juli 2016

baguss :)
BalasHapussemoga nanti bisa lebih baik lagi :)
Hapuspenasaran lanjutannya mba rah...
BalasHapushahhaha sabar nin, ikuti saja setiap postingannya hehhe..
Hapusapa mau ikut mbantuin cari endingnya nih