JANGAN KUBUR RAMADHAN!
. Kita barangkali tersentak seraya berujar: “Ya ampun ramadhan datang lagi… tidak terasa ya? Perasaan baru kemarin lebaran”
Ada tiga golongan sikap manusia ketika menghadapi ramadhan. Golongan pertama adalah golongan yang acuh tak acuh. Kedatangan ramadhan tak menggelitik jiwanya. Tak ada yang berubah dalam ritme kehidupannya, paling-paling beberapa jadwal yang mesti ditata ulang. Jadwal makan (tetap sering, cuma waktunya saja yang disiasati) , jadwal bangun tidur (bisa nyambung tidur habis sahur), jadwal kerja (dipotong dengan alasan: maaf, saya sedang berpuasa). Kedatangan ramadhan tak ubahnya seperti sosok tamu yang terlampau biasa.
Golongan yang kedua, adalah golongan yang melakukan persiapan untuk menghadapi ramadhan. Dan selayaknya namanya: ‘menghadapi’, maka baginya kedatangan Ramadhan lebih seperti kehadiran seorang musuh. Ramadhan memang disambut, tapi disambut dengan muka masam. Atau kalaupun tersenyum, hanyalah basa-basi seraya menelan ludah. Nuraninya mengeluh kencang. Lalu merekapun menyusun strategi selama ramadhan. Bagaimana caranya supaya tetap bertahan, bagaimana supaya tetap makan enak? Bagaimana supaya tidak capek? Bagaimana supaya maksiat saya tetap tidak terganggu?
Golongan yang ketiga, golongan yang tersenyum manis. Layaknya seperti menyambut kekasih yang sudah lama dipisahi. Dia pun melakukan serangkaian persiapan. Bukan, bukan untuk menghadapi, namun bagaimana membersamai dan mencumbui ramadhan.
Dan layaknya kegembiraan menyongsong sang kekasih, maka para perindu ini sudah sejak lama merias diri, menggincui hatinya dan meronai amalnya agar ketika bertemu kelak, sang kekasih tidak kecewa. Dia pun sudah menyusun berbagai rencana bermesraan dengannya. Di sepanjang siang dan malamnya, dengan lantunan tadarrus, mendirikan tarawih, memperbanyak sadaqah, menebar dakwah dan amal shaleh lainnya.
Mengubur ramadhan! Ibarat janin yang belum terlahir ke dunia, namun telah digugurkan dengan semena-mena. Itulah yang kita saksikan di hadapan kita – semoga hal yang sama tak menimpa saya. Ramadhan tak lebih sebagai pemanis bibir. Tatkala ramadhan menjadi begitu hambar ketika cuma menjadi bahasa ‘dalam rangka’. “dalam rangka menyambut ramadhan, maka marilah…..” akibatnya Ramadhan hanya menjadi sebuah rutinitas. Merugi, seperti kata Rasulullah, dimana yang didapat hanya sekedar lapar dan haus. Maksiat pun dijedakan selama ramadhan, demi sekali lagi ‘dalam rangka…”. Maka diskotik ditutup ‘dalam rangka’ ramadhan, para artis memakai kerudung ‘dalam rangka’ramadhan, para pejabat tampak shaleh dengan sering menggelar ceramah-ceramah dan buka puasa bersama, ‘dalam rangka’ ramadhan.
Lebih parah lagi, stasiun televisi juga ramai memanipulasi diri ‘dalam rangka’ ramadhan. Parahnya, bukan menjadi lebih baik, namun hanya mengemas maksiat menjadi berkesan islami. Betapa tidak, sejak awal-awal mereka sudah ramai-ramai merekrut pelawak dan artis ternama untuk menghiasi tayangan-tayangan ramadhan yang rasanya bingung mencari letak nuansa islaminya di dalam acara tersebut. Betapa tidak? Di sahur dan berbuka kita hanya disuguhi lawak. Lawak bukan lagi selingan, tapi sudah jadi mayoritas. Lalu dimana acara keislamannya?
Ramadhan sejatinya adalah kawah candradimuka, belanga yang melebur kita, membasuh dosa-dosa. Sehingga sepatutnya orang-orang yang melebur di dalamnya akan tampil berseri dan cemerlang setelahnya. Semoga Ramadhan kali ini kita bisa meraih capaian seperti yang ditargetkan oleh Allah: Taqwa. Dan semoga kita tidak menjadikan ramadhan mati dan, menguburnya sebelum dia sempat terlahir. Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’ban… wa ballighna ramadhan.
DOKTER
KIAR
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar